CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 29 April 2013

Makalah Perang Salib

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar  Belakang Masalah
Perjuangan islam  yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat mengalami perkembangan yang sangat pesat bahkan sampai ketanah Eropa, hal ini menunjukkan kegemilangan islam dalam meyebarkan agama islam. Islam datang di tanah Eropa membawa perubahan menyeluruh dibidang pendidikan, pengetahuan, peradaban dan kebudayaan. Namun kegemilangan tersebut tidaklah semudah yang dibayangkan, Islam sampai  ke tanah Eropa memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang sangat dahsyat. Perjuangan Islam harus dilewati dengan peperangan. Peperangan dalam sejarah Islam yang terkenal adalah perang salib. Peperangan tersebut menimbulkan benturan dan interaksi sosial dan budaya serta pemikiran antara Barat dan Islam. Peradaban dan kebudayaan sama-sama menunjuk pada seluruh pandangan hidup manusia, dan suatu peradaban adalah bentuk yang lebih luas dari kebudayaan. Keduanya mencakup nilai-nilai dan norma, institusi-institusi dan pola-pola pikir yang menjadi bagian terpenting dari suatu masyarakat dan terwariskan dari generasi kegenerasi( Samuel P. Huntington, 2004: 40).
Perang Salib membawa perubahan yang sangat besar bagi sejarah dan Pemikiran Islam. Semangat dakwah yang di bawa para sahabat Nabi Muhammad SAW sampai ke bumi eropa merupakan bagian dari peradaban Islam adalah sebagai perubahan pola dan sistem budaya barat yang cenderung dalam cara berpikir dan hidupnya lebih terpengaruh oleh kemajuan. Namun, seiring dengan berkembangnya islam yang semakin maju, terdapat pemberontakan dari kaum kristen yang merasa terintimidasi dan tersingkir oleh kepemimpinan islam yang saat itu mengalami kemunduran.  untuk mempertahankan kejayaan islam di Eropa, umat islam secara  terpaksa harus melakukan peperangan. Peperangan dalam Islam adalah satu jalan yang terpaksa dihadapi demi mempertahankan umat, akidah dan agama dari campur tangan berbagai pihak yang memusuhi islam.
Peperangan yang paling terkenal dalam sejarah peradaban islam adalah perang salib. oleh karena itu penulis mencoba untuk membahas mulai dari latar belakang terjadinya perang ini hingga dampak dari perang ini terhadap peradaban agama.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembahasan ini adalah
1. Bagaimana latar belakang terjadinya perang salib?
2. Bagaimana periodisasi dalam perang salib?
3. Bagaimana pengaruh perang salib bagi peradaban islam dan kristen?
C. Tujuan Pembahasan
Tujuan dalam pembahasan ini adalah:
1. Mengetahui latar belakang terjadinya perang salib.
2. Mengetahui periodisasi dalam perang salib.
3. Mengetahui pengaruh perang salib bagi peradaban islam dan kristen.



BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Terjadinya Perang Salib
Sejumlah ekspedisi militer yang dilancarkan oleh pihak Kristen terhadap kekuatan muslim dalam periode 1096 – 2073 M yang bertujuan membebaskan tempat suci (Baitulmakdis/Yerusalem) dari tangan para kaum Muslim. Perang ini dikenal sebagai perang salib. Perang itu bernama perang Salib dikarenakan umat Kristen yang turut dalam peperangan itu memakai tanda salib sebagai simbol pemersatu. Perang ini disebabkan karena adanya dugaan bahwa pihak Kristen dalam melancarkan serangan tersebut didorong oleh motivasi keagamaan. Dan perang ini merupakan puncak dari sejumlah konflik antara negeri barat dan negeri timur, jelasnya antara pihak Kristen dan pihak muslim. Perkembangan dan kemajuan umat muslim yang sangat pesat pada akhir-akhir ini, menimbulkan kecemasan para tokoh-tokoh barat Kristen. Karena terdorong oleh kecemasan ini, maka mereka melancarkan serangan terhadap kekuatan muslim. Dari situ terlihat adanya beberapa kepentingan individu yang turut mewarnai perang salib ini.
Berikut ini adalah beberapa faktor penyebab yang turut melatarbelakangi terjadinya perang salib, yaitu :
a.       Faktor agama
Keberadaan Yerusalem yang berada dibawah kekuasaan Islam dalam hal ini dinasti Fatimiyyah yang pada tahun 1070 direbut oleh dinasti seljuk. Meskipun demikian Yerusalem masih menjadi tempat Ziarah yang paling populer bagi umat Kristen Eropa. Namun, pihak Kristen merasa bahwa keamanan pelaksanaan ziarah ke kota suci tidak dapat lagi dijamin dan mereka merasa tidak bebas lagi untuk menunaikan ibadah ke yerussalem. Pihak Kristen merasa dipersulit dengan beberapa peraturan yang  ditetapkan oleh dinasti seljuk. Kemudian hal ini dilihat oleh pimpinan Gereja Katolik Roma untuk bertindak memberi keamanan kepada para peziarah bukan dengan cara damai melainkan dengan kekerasan yakni perang untuk merebut kota suci tersebut.

b.    Faktor Politik
Kekalahan pada perang Maladzkird (463 H/1071 M) yang terjadi antara kaum muslimin asal Saljuk yang dipimpin oleh Alib Arselan dengan orang-orang Romawi Byzantiun kaum muslimin menorehkan kemenangan besar atas mereka dan menguasai arab kecil. Peristiwa ini telah menjadi jalan bagi penghancuran pengaruh Romawi dari sebagian besar wilayah asia kecil dan telah membuka jalan baru terhadap Romawi. Selain itu, keberhasilan penguasa eropa dalam merebut kembali wilayah-wilayah Spanyol selatan dari dinasti Fatimiyyah seperti Toledo tahun 1085 dan Sisilia tahun 1091 melahirkan kepercayaan diri yang baru akan kekuatan Eropa untuk menghadapi kekuatan Islam. Karena pada waktu itu, kondisi kekuasaan islam sedang melemah sehingga orang-orang kristen berani untuk ikut dalam perang salib.
c.    Faktor Sosial dan Ekonomi
Pasukan muslim menjadi penguasa jalur perdagangan di lautan tengah. Para pedagang Pisa, Vinesia, dan Cenoa merasa terganggu atas kehadiran pasukan lslam sebagai penguasa jalur perdagangan di laut tengah ini. Satu-satunya jalan untuk memperluas dan memperlancar perdagangan mereka adalah dengan mendesak kekuatan muslim dari lautan ini. Mereka berambisi dan rela mengeluarkan dana berapapun untuk menjalankan misi mereka, termasuk menanggung dana untuk teraksananya perang salib.
Di Eropa, terdiri dari tiga stratifikasi sosial yaitu kaum gereja, kaum bangsawan dan kesatria dan ada kaum rakyat jelata. Pihak gereja memobilisasi para kaum rakyat jelata untuk ikut dalam perang salib dan menjanjikan kesejahteraan dan kebebasan pada mereka apabila mereka menang dalam perang, sehingga mereka merasa mempunyai harapan untuk hidup lebih baik dan menyambut seruan itu secara spontan dan berduyun-duyun terlibat dalam perang itu.
Pada saat itu, di Eropa berlaku hukum waris yakni bahwa hanya anak tertualah yang berhak menerima harta warisan, dan apabila anak tertua meninggal harta tersebut harus diserahkan kepada gereja. Oleh karena itu, populasi orang miskin meningkat sehingga amak-anak miskin beramai-ramai mengikuti seruan mobilisasi umum perang salib dengan harapan mendapatkan perbaikan ekonomi.
B. Periodisasi Perang Salib
Perang salib terjadi berangsur-angsur dalam waktu yang lama. Menurut Hitti, (1970;636-637) sejarah perang salib dibagi menjadi beberapa periode, yaitu periode pertama  terjadi pada tahun 1096-1144, periode ke dua terjadi pada tahun 1144-1192, dan periode ketiga pada tahun 1193-1291.
1.      Periode Pertama (1096-1144)
Perang salib Periode Pertama Berlangsung pada tahun 1096-1144. Hal ini awalnya dilatarbelakangi oleh jalinan kerja sama antara kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II yang telah berhasil menyemangati kaum kristen untuk berperang. Pada musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar dan menduduki kota suci Yerusalem (Palestina). Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menakhlukan Nicea dan tahun 1098 M menguasai Raha (Endessa). Mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama, mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan Latin II di Timur dengan Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis (15 Juli 1099 M) dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya Godfrey. Mereka menguasai kota Akka (1104 M), Tripoli (1109), dan kota Tyre (1124). Di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin IV, dan rajanya adalah Raymond. (Anonim:-- [pdf])
2. Periode II (1144-1192)
Periode ini dimulai pada tahun 1144, kaum muslimin mulai bangkit dari  menguasai beberapa daerah yang telah dikuasai kaum salib. Tokoh pemimpinnya adalah Imaduddin Zanki, yaitu penguasa Moshul, dan Irak. Ia berhasil menakhlukkan kembali Aleppo, Hamimah dan Edessa pada tahun 1144 M. Kemudian Ia wafat tahun 1146 M. Tugasnya dilanjutkan oleh putranya, Nuruddin Zanki. Nuruddin Zanki berhasil merebut kembali Antiochea pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali.
Kerajaan Edessa ini menyebabkan orang-orang kristen mengobarkan Perang salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Prancis Louis VII dan raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Condrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. . (Anonim:-- [pdf])
Nuruddin wafat tahun 1174 M. Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Salahuddin al-Ayyubi yang berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah di Mesir tahun 1175 M. Pada tanggal 2 Oktober 1187 Salahuddin berhasil merebut kembali Yerussalem yang telah dikuasai kerajaan laten selama 88 tahun.
Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum Muslimin sangat memukul perasaan tentara salib sekaligus mengobarkan semangat mereka untuk berperang kembali. pada tahun 1189 Kaum salib yang dipimpin oleh Frederick I (Barbarossa, raja Jerman), Ricard The Lion Hart (raja Inggris), dan Philip Augustus ( raja Prancis). Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M dengan dua jalur berbeda. Pasukan Richard dan Philip melalui jalur laut dan pasukan Barbarossa - saat itu merupakan yang terbanyak di Eropa - melalui jalur darat, melewati Konstantinopel. Namun, Barbarossa meninggal di daerah Cilicia karena tenggelam di sungai, sehingga menyisakan Richard dan Philip. Sebelum menuju Tanah Suci, Richard dan Philip sempat menguasai Siprus dan mendirikan Kerajaan Siprus.
Merskipun mendapat tantangan berat dari Salahuddin, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Philip kemudian balik ke Perancis untuk "menyelesaikan" masalah kekuasaan di Perancis dan hanya tinggal Richard yang melanjutkan Perang Salib ini. Pasukan Salib tidak berhasil memasuki Palestina. Pada tanggal 2 Nopember 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Salahuddin yang disebut dengan Shulh al-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Baitul Maqdis tidak akan diganggu, sedangkan Acre dan Jaffa berada di bawah kekuasaan tentara salib.
Tentara salib mengalami kekalahan pada perang salib kedua. Tampilnya pemimpin kharismatik Islam sultan Salahuddin al-Ayyubi (sultan Saladin) yang berhasil mempersatukan Mesir dan Syria dibawah kekuasaannya berhasil pula memukul telak tentara salib dengan merebut kembali kota suci Yerusalem. Kemudian pada tahun 1193 Salahudin wafat pada bulan Safar/Februari.
3. Periode III (1193-1291)
Periode ini dimulai pada tahn 1193-1291. Kekalahan perang salib dua, dengan jatuhnya yerusalam ke tangan tentara Salahuddin al-Ayyubi membuat kaum salib tidak puas, sehingga mereka menyusun rencana untuk mengadakan perang salib periode ini. Tentara salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Dia adalah Kaisar Romawi yang menjadi harapan Eropa. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir terlebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan orang-orang Kristen Qibthi.
Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari dinasti Ayyubiyah waktu itu, al-malik al-Kamil, membuat perjanjian yang isinya Frederick bersedia melepaskan Dimyath, sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum muslimin di sana, dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin tahun 1247 M, di masa pemerintahan Al-Malik Al-Shalih, penguasa Mesir selanjutnya.
Ketika Mesir dikuasai oleh dinasti Mamalik (yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah), pimpinan perang dipegang oleh Baybars dan Qalawun. Pada masa itu juga berhasil merebut kembali benteng-benteng yang telah dikuasai pasukan salib diantaranya adalah merebut kembali kota Yaffa tahun 1289, Tripoli tahun 1289, dan kota Akka di tahun 1291 M. Kekalahan pasukan salib pada masa ini merupakan akhir dari perang salib. Hal ini juga ditandai dengan keberhasilan penguasa Mamluk mengambil alih sisa-sisa daerah-daerah yang masih diduduki oleh tentara salib. Secara garis besar perang salib di periode ini merupakan akhir dari perang salib dan telah mencatat kegagalan dipihak pasukan salib.
C. Pengaruh Perang Salib Terhadap Umat Islam dan Kristen
Pengaruh perang Salib (Crussades) terhadap peradaban Islam sangat berdampak besar, Perang Salib yang terjadi sampai pada akhir abad XIII memberi pengaruh kuat terhadap Timur dan Barat. Di samping  kehancuran fisik, juga meninggalkan perubahan yang positif dan negatif. walaupun secara politis, misi Kristen-Eropa untuk menguasai Dunia Islam gagal. Perang Salib meninggalkan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan Eropa pada masa selanjutnya. Akibat yang paling tragis dari Perang Salib adalah  hancurnya peradaban Byzantium yang  telah dikuasai oleh umat Islam sejak Perang Salib keempat hingga pada masa kekuasaan Turki Usmani tahun 1453. Akibatnya, seluruh kawasan pendukung kebudayaan Kristen Orthodox menghadapi kehancuran yang tidakterelakkan, yang dengan sendirinya impian Paus Urban II untuk unifikasi dunia Kristen di bawah kekuasaan paus menjadi pudar. Menurut para pakar sejarah , Timur memiliki peradaban yang maju disebabkan peran bangsa Arab, adapun Eropa (Barat)  tenggelam dalam lautan kebiadaban.
Pada perang salib umat islam mengalami kerugian yang sangat besar meskipun telah memenangkan peperangan, seperti hilangnya jejak-jejak kejayaan islam akibat pemusnahan besar-besaran terhadap karya-karya umat islam yang dilakukan oleh para tentara salib, sebaliknya dengan umat kristen yang mengalami kekalahan telak tetapi mereka mendapatkan keuntungan yang sangat besar dalam berbagai bidang diantaranya
a.       Bidang  kebudayaan;  seperti berkat interaksinya dengan kaum Muslim, sedikit demi sedikit mereka mengenal peradaban, beberapa kosakata Eropa yang asal katanya berasal dari bahasa Arab, terjadi percampuran budaya antara kaum Frank dan kaum Muslim dalam seni arsitektur yang menyebabkan lahirnya Renaisance di Barat.
b.      Bidang  ilmu  pengetahuan; banyak pemimpin Barat  yang belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya, dan berkembangnya ilmu astronomi yang mempengaruhi berdirinya berbagai obervatorium di dunia Barat.
c.       Bidang  Ekonomi; adanya hubungan perniagaan dengan Timur, orang Barat mulai menggunakan mata uang dan mulai meninggalkan sitem barter, kemjuan perdagangan di Timur berangsur-angsur berpindah ke Barat
d.      Bidang  Politik; dunia Barat mulai mengenal sistem berpoloitik dalam pemerintahan
e.       Bidang militer; dunia Barat menemukan persenjataan dan teknik berperang yang baru, penggunaan bahan-bahan peledak dalam berperang dan sebagainya.
f.       Bidang perindustrian; dunia Barat banyak menemukan kain tenun dan peralatan tenun di dunia Timur
g.      Bidang pertanian; dunia Barat menemukan teknik-teknik pertanian seperti sistem irigasi praktis, buah-buahan yang beraneka ragam.
h.      Bidang Agama; timbulnya sentimen keagamaan yang kuat antara islam dan kristen, dan sebagainya.
Pada intinya, Perang salib yang berlangsung antara Bangsa Timur dengan Barat menjadi penghubung bagi Bangsa Eropa khususnya untuk mengenali dunia Islam secara lebih dekat lagi. Ini memiliki arti yang cukup penting dalam kontak peradaban antara Bangsa Barat dengan peradaban Timur yang lebih maju dan terbuka. Kontak peradaban ini berdampak kepada pertukaran ide dan pemikiran kedua wilayah tersebut. Bangsa Barat melihat kemajuan ilmu pengetahuan dan tata kehidupan di Timur dan hal ini menjadi daya dorong yang cukup kuat bagi Bangsa Barat dalam pertumbuhan intelektual dan tata kehidupan Bangsa Barat di Eropa. Interaksi ini sangat besar andilnya dalam gerakan renaisance di Eropa


BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Perang salib adalah perang yang dilancarkan oleh pihak Kristen terhadap kekuatan muslim dalam periode 1096 – 2073 M yang bertujuan untuk membebaskan tempat suci (Baitulmakdis/Yerusalem) dari tangan para kaum Muslim. Perang ini dikenal sebagai perang salib dikarenakan umat Kristen yang turut dalam peperangan itu memakai tanda salib sebagai simbol pemersatu. Adapun faktor yang melatarbelakangi perang ini adalah faktor agama, faktor politik,dan faktor sosial ekonomi.
Adapun periodisasi dalam Perang salib itu terbagi menjadi tiga periode. Periode pertama  (tahun 1096-1144 M) merupakan periode penaklukan wilayah islam oleh pasukan salib, periode ke dua ( 1144-1192 M) merupakan keberhasilan umat islam dalam merebut kembali wilayah yang dikuasai kristen, dan periode ketiga ( 1193-1291) adalah periode yang pada akhirnya menyatakan bahwa pasukan salib telah gagal dalam menguasai wilayah timur.
Pengaruh perang salib bagi umat islam menimbulkan banyak kerugian meskipun umat islam memenangkan peperangan. Sebaliknya umat Kristen mendapat banyak keuntungan meski kalah dalam peperangan. Tidak hanya itu, perang salib menimbulkan sentimen keagamaan antar Islam dan Kristen bahkan sampai sekarang.
B. Saran
Penulis menyarankan kepada para pembaca yang hendak membuat makalah dengan tema yang sama agar memperbanyak referensi yang digunakan demi perbaikan makalah selanjutnya.
 DAFTAR PUSTAKA
Prof. K Ali. 1996. A study of Islamic History, versi terjemahan “Sejarah Islam (Tarikh Pramodern)”. Jakarta; PT RajaGrafindo Persada.
Sumtiah, Ratu. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Bandung; Insan Mandiri
A.Syalabi, 2000, Sejarah dan Kebudayaan Islam III. Jakarta: Al-Husna Zikra
Budiman, mamduk. 2012. Pengaruh dan Pemikiran terhadap Peradaban Islam. Semarang. Pdf
Muhlis. [2007]. Perang Salib Dalam lintasan Sejarah. Tersedia di : http://muhlis.files.wordpress.com/2007/08/perang-salib-dalam-lintasan-sejarah.pdf (Diakses pada 18 April 2013 pukul 15:35)
Anonim. ---. Sejarah Perang Salib. Tersedia di : http://www.google.com/url/SalahuddinAnalisis.pdf (Diakses pada 18 April 2013 pukul 15:45)



0 komentar:

Poskan Komentar